( Alm. Calvin Indi Sutanto )
Kami berterima kasih
kepada Andy Prasetya, yang berkenan membagikan kepada kami, kesaksian imannya
yang sangat menyentuh hati. Andy mengalami besarnya kasih Tuhan justru melalui
pergumulan hidup ketika mengetahui bahwa anaknya, Calvin, mengalami cacat
tubuh. Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan, kenyataan ini dapat mendatangkan
keputuasaan, namun bagi Andy sekeluarga, kejadian ini malah memperkuat iman dan
pengharapan mereka akan Tuhan Yesus. Ya, Tuhan mengetahui segala yang terbaik
baik setiap dari kita. Melalui pengalaman Andy ini kita melihat betapa ayat
firman Tuhan ini digenapi:
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah
juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu
menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji
menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah
telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan
kepada kita….” (Rom 5:3-5)
Aku lahir dan dibesarkan dari keluarga Katolik,
di sebuah kota kecil di Solo, Jawa tengah. Sejak kecil kami dididik secara
Katolik. Aku dibaptis sejak kecil dan menuntut ilmu di sekolah Katolik. Namun
bagiku saat itu, semuanya hanyalah rutinitas belaka tanpa iman yang benar-benar
menunjukkan seorang Katolik sejati. Aku bertemu dengan istriku pada saat kami
kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Akhirnya setelah selesai
kuliah kami memutuskan untuk menikah dan memulai kehidupan berumah tangga. Tak
lama kemudian tepatnya tanggal 10 Mei 1997, hadir seorang bayi laki-laki dalam
kehidupan kami, yang kemudian kami beri nama Calvin Indi Sutanto. Seorang bayi
yang lucu yang lahir melalui persalinan normal. Namun saat indah itu hanya
berlangsung untuk waktu yang sangat singkat. Di usianya yang ke-10 hari, kami
mendapati Calvin menangis terus dan kedua tangannya tak dapat bergerak. Ketika
kami bawa ke dokter , vonis yang kejam pun kami terima bahwa Calvin menderita
polio. Kami tidak percaya, karena dengan mata kepala sendiri kami melihat pada
saat lahir semua anggota tubuh dia berfungsi dengan normal. Setelah akhirnya
mencari beberapa dokter untuk mendapatkan diagnosa yang pasti, sampailah kami
pada suatu nama penyakit yang sangat aneh di telinga kami “osteogenesis
imperfecta”, suatu penyakit tulang yang langka yang disebabkan kelainan
genetika, dimana tulang mudah sekali patah terhadap benturan sekecil apapun.
Itulah mengapa kedua tangan Calvin tidak dapat bergerak karena setelah di
rontgen baru terlihat bahwa kedua lengannya patah. Dan sedihnya lagi hingga
detik itu belum ada satu jenis obat pun yang dapat mengobati langka tersebut.


Maka dimulailah babak baru di dalam kehidupan
kami untuk membesarkan dan menjaga titipan Tuhan ini. Selama hampir satu tahun
usianya, sudah berpuluh-puluh kali Calvin mengalami patah tulang di sekujur
tubuhnya. Saat belajar merangkak tangannya pun patah, saat belajar duduk paha
dan kakinya pun patah. Kami tak bisa membayangkan kesakitan yang dahsyat yang
dialaminya setiap kali tulangnya patah. Namun Tuhan sangat adil kepada Calvin.
Itu dibuktikan pada saat usianya satu tahun dia sudah dapat berbicara, bahkan
membaca sepatah dua patah kata. Sehingga ketika anggota tubuhnya patah, dia
sudah dapat berteriak sambil menunjukkan bagian mana yang patah. Karena belum
ditemukan obat untuk penyakit tersebut, maka hanya keajaiban dan mujizat Tuhan
lah yang menjadi harapan kami satu-satunya. Setiap saat kami selalu berdoa
kepada Tuhan untuk menurunkan mujizatNya kepada Calvin. Tak lupa kami pun
mengajarkan Calvin untuk selalu berdoa kepada Tuhan pada waktu malam sebelum
dia berangkat tidur, untuk memohon kesembuhan.
Di usianya yang ketiga Calvin mendapatkan sebuah
hadiah dari Tuhan, yaitu seorang adik kecil perempuan, yang kemudian kami beri
nama Anabel. Kelahiran Anabel sempat membawa kebimbangan besar dalam hidup
kami, karena menurut dokter kandungan, apabila istriku melahirkan seorang anak
laki-laki maka kemungkinan untuk menderita penyakit seperti Calvin bisa terjadi
lagi. Walaupun kemungkinan itu kecil, namun kami harus bersiap dengan
resikonya. Maka sampai dengan harinya Anabel lahir, melalui persalinan normal
dan diketahui berjenis kelamin perempuan, barulah kelegaan menyelimuti perasaan
kami. Mereka berdua pun tumbuh dan berkembang bersama. Namun satu perbedaan
fisik yang mencolok bisa dilihat dari keduanya. Anabel tumbuh sebagaimana anak
seusianya, sedangkan Calvin walaupun usianya bertambah, tetapi bentuk fisiknya
tetap seperti anak berusia dua tahun.

Rasa lelah untuk berharap
Sepanjang hari setiap waktu aku tak berhenti
berdoa untuk memohon mujizat pada Tuhan agar Calvin disembuhkan. Namun akhirnya
rasa lelah pun menghinggapi diriku. Aku capek memohon kepada Tuhan, namun hingga
saat itu Tuhan tak pernah menjawab dan mengabulkan doaku. Hingga akhirnya aku
memutuskan untuk marah dan putus hubungan dengan Tuhan. Biarlah semua ini
kutanggung sendiri tanpa mengharapkan belas kasihan dan bantuan Tuhan. Dua
tahun lamanya aku meninggalkan Tuhan, aku sibuk dengan pekerjaanku sendiri
tanpa ada waktu untuk merayakan Misa ke gereja, mengucap syukur dan memohon
berkat dariNya. Kubiarkan istriku sendiri setiap Minggu pergi ke gereja, tanpa
pernah aku menemaninya. Karena bagiku Tuhan sudah menjauhi aku dan keluargaku,
sehingga Dia tak ada waktu lagi untuk mendengarkan dan mengabulkan doaku.
Hingga pada suatu ketika dengan sangat terpaksa aku harus menemani istriku ke
gereja. Dengan perasaan malas aku terpaksa berangkat menemaninya, kupikir toh
hanya satu setengah jam saja aku harus duduk terpekur menemani istriku
mengikuti Misa di gereja.
Namun ternyata Tuhan menunjukkan kemuliaanNya
saat itu. Ketika pastor menyampaikan homili aku bagaikan ditampar oleh isi
kotbahnya. Beliau menceritakan banyak orang berdoa memohon kesembuhan dan
mujizat dari Tuhan, namun ketika mujizat itu tak kunjung datang, rasa frustasi
dan menyerah akhirnya menghinggapi. Cara memohon atau berdoa yang salah yang
menjadi biang keladinya. Sering di dalam doa permohonan kita itu, kita
mengharapkan doa kita dikabulkan secepatnya, dan yang lebih parah lagi kita
bahkan mendikte Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Kita sering tidak
menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sudah menjawab permohonan kita. Tanpa kita
sadar akan kebaikan Tuhan tersebut, kita selalu menginginkan sesuatu yang lebih
dan sesuai dengan pengharapan kita. “Terjadilah kepadaku menurut kehendakMu“,
itulah yang seharusnya terucap dalam setiap doa kita, membiarkan kuasa Tuhan
bekerja sesuai dengan kehendakNya. Selesai Misa tersebut aku seperti terlahir
kembali. Terima kasih Tuhan telah menegurku dengan caraMu yang begitu indah.
Mulai saat itu kuserahkan seluruh permohonanku sesuai dengan kehendakNya, dan
bukan kehendakku.
Cobaan berat itu datang juga
Calvinku akhirnya tumbuh dan berkembang. Dia pun
mulai memasuki kehidupan bersosial dengan masuk ke sekolah taman kanak-kanak.
Dengan segala kekurangan dalam tubuhnya yang tak dapat berjalan, bersekolah
dengan kursi roda dalam mengikuti semua pelajaran dan kegiatan, tak ada
sedikitpun rasa minder dan rendah diri pada diri Calvin. Aku dan istriku sangat
bersyukur atas kebesaran hati Calvin untuk menyadari segala kekurangannya.
Namun untuk menikmati pendidikan bagi dirinya, tak semudah yang didapat
anak-anak normal seusianya. Setamat dari TK, kami mulai berusaha mencari
sekolah dasar untuk kelanjutan pendidikannya. Namun yang terjadi kemudian,
begitu banyak kami mendaftar, begitu banyak juga kami ditolak, bahkan sekolah
Katolik idaman Calvin pun tak mengijinkan dia bersekolah disitu, karena takut
mengganggu aktivitas teman-temannya. Bahkan kami dianjurkan untuk menyekolahkan
Calvin di SLB ( Sekolah Luar Biasa ) untuk anak-anak cacat. Tanpa kecil hati
kami pun mendaftarkan Calvin ke SLB. Namun ternyata mereka pun menolak Calvin
karena menurut mereka Calvin adalah anak yang normal, hanya fisiknya saja yang
menjadi kekurangan dalam dirinya. Dia dapat membaca, menulis, dan mengerjakan
semua tugas sekolahnya, jadi akan sangat kasihan apabila Calvin harus
bersekolah di SLB karena dia harus bergabung dengan anak-anak yang memiliki
banyak keterbatasan dibandingkan dirinya, sehingga justru akan menghambat
segala kemampuannya.
Akhirnya Tuhan pun menjawab doa kami, dan Calvin
menemukan sebuah sekolah umum yang mau menampungnya, tanpa memandang cacat
fisik yang dimilikinya. Bahkan untuk mata pelajaran olah raga dan prakarya dia
mendapatkan dispensasi khusus untuk diganti dengan pelajaran teori sebagai
pengganti ketidakikutsertaannya. Terpancar begitu besar suka cita dalam diri
Calvin karena sekarang dia dapat melanjutkan pendidikannya, sesuatu yang sangat
didambakannya. Bahkan di setiap jenjang kelas yang diikutinya, dia berhasil
memperoleh ranking dua atau tiga di setiap akhir semester. Itu pun karena tak
mungkin bagi dia untuk menjadi yang terbaik atau juara pertama sebab untuk mata
pelajaran olah raga dan prakarya hanya nilai minimal yang diperolehnya sebagai
pengganti ketidakikutsertaannya.
Kami sangat bangga dengan Calvin, hingga cobaan
berat itu datang lagi di saat Calvin menginjak kelas lima sekolah dasar. Dari
yang biasanya selalu menjadi peringkat tiga besar di kelas, tiba-tiba Calvin
memperoleh peringkat dua dari belakang, alias ke-dua dari ranking yang paling
akhir. Kepala Sekolah, guru-guru dan kami sendiri pun bingung dan berusaha
mencari tahu penyebabnya. Walaupun saat itu kami juga menyadari perubahan dalam
dirinya yang menjadi malas belajar, sering marah-marah, namun kami masih
menganggap hal itu wajar untuk anak seusianya. Memang kami sempat heran saat
itu karena biasanya telepon di rumah kami begitu sering berdering dari
teman-teman Calvin yang berbicara kepada Calvin untuk menanyakan tugas atau
bagaimana menjawab soal pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Tiba-tiba
saja telepon itu jarang sekali berdering lagi.

Hingga pada suatu malam Calvin memanggilku dan
mengajak berbicara berdua saja di kamarku. “Papi, bunuh diri itu dosa, nggak?”
kalimat itu meluncur dari bibirnya seperti menohok diriku. Oh…Tuhan, mengapa
kata-kata itu meluncur dari mulut kecil anakku, dan aku belum siap untuk
mendengarnya. Sambil berdoa dan menahan air mata ini untuk tidak menetes,
kujawab pertanyaan anakku. Kujelaskan kepadanya bahwa bunuh diri itu adalah
sebuah dosa besar karena kita sudah melawan kehendak Tuhan. Belum selesai aku
bernapas lega, disusul kemudian pertanyaan berikutnya datang lagi, “Kalau aku
bunuh diri dosa, berarti kalo papi yang bunuh aku, dosanya ada di papi dong…aku
tetap nggak berdosa.“ Sekali lagi aku bagai tersambar petir mendengar
pertanyaan polos itu. Namun Roh Kudus seperti merasuki diriku, hingga akhirnya
aku pun dapat menjawab dan menjelaskan kepada Calvin kenapa bunuh diri itu
dosa. Dia pun bercerita kepadaku betapa putus asanya dia karena hingga saat itu
Tuhan tidak menjawab doa-doanya yang dia panjatkan setiap malam sebelum tidur.
Aku bagai tersihir dan teringat kembali akan keadaanku sendiri waktu itu yang
lelah memohon kepada Tuhan sehingga akhirnya aku pun menghujat Tuhan dalam
hidupku. Akhirnya kujawab juga kegusaran anakku, persis seperti kotbah pastor
saat itu yang akhirnya membuka kembali pintu hatiku untuk Tuhan. Kujelaskan
pada dia bahwa sebenarnya mujizat itu telah terjadi pada dirinya, karena dia
masih diberi umur yang panjang, dan hingga kelas lima saat itu, dia sudah
jarang lagi mengalami patah-patah tulang dibandingkan pada saat dia masih
balita. Dan kuceritakan pula bahwa kita tidak bisa mendikte Tuhan untuk
menghadiahkan kepada kita sesuatu yang sama persis seperti keinginan kita,
misalnya dia selalu berdoa untuk bisa berjalan dan esoknya Tuhan langsung
mengabulkan dan dirinya dapat langsung berjalan. Dan puji Tuhan Calvin pun
akhirnya menyadari kesalahannya dan dia pun berjanji saat kelas enam nanti dia
akan kembali berprestasi seperti sebelumnya. Dan tahukah Anda…janji itu
dibuktikannya sampai akhirnya malaikat Tuhan menjemputnya.
Rencana Tuhan itu begitu indah….
Semester pertama ketika dia duduk di kelas enam,
tiba waktunya untuk mengambil raport hasil semester. Dengan harap-harap cemas
kami pun pergi ke sekolah Calvin. Ketika kami tiba dan berjumpa dengan wali
kelas Calvin, jabat tangan tanda selamat diberikan oleh wali kelas tersebut.
Kami terkejut dan tak tahu apa yang terjadi. Ternyata Calvin menepati janjinya
untuk kembali berprestasi dan kembali menempati ranking tiga di kelasnya,
sesuatu yang sangat membanggakan kami. Namun kebahagiaan kami tak berlangsung
lama. Di bulan Desember tahun 2008, dua hari menjelang Natal, tiba-tiba Calvin
sakit, bukan patah tulang, tetapi sesuatu yang salah dalam tubuhnya hingga
mengganggu pernapasannya. Hingga akhirnya mimpi buruk yang tak pernah terjadi
itu hadir dan mencobai kami. Calvin harus dirawat di ICU di Rumah Sakit. Saat
itu kami melihat begitu tersiksanya dia karena harus bernapas melalui mesin
lewat selang yang masuk dari mulutnya hingga ke paru-parunya, serta begitu
banyak alat bantu yang terpasang di tubuhnya. Padahal Calvin ingin sekali
mengikuti Misa Natal bersama kami sekeluarga karena tiga bulan sebelumnya dia
sudah menerima Komuni Pertama untuk pertama kalinya, sesuatu yang sangat
diidamkannya. Akhirnya Calvin pun terpaksa melewatkan Misa malam Natal saat itu
dan berharap cepat sembuh dan kembali ke rumah.
Setelah seminggu dirawat akhirnya Calvin pun
diperbolehkan pulang, namun dengan syarat tetap menjaga kondisi tubuhnya untuk
tidak terlalu capek. Cuaca buruk di musim hujan mengakibatkan kondisi Calvin
tidak stabil, sehingga di awal bulan Januari ia kembali harus dirawat di ICU
untuk kedua kalinya. Namun kali ini di rumah sakit yang berbeda, mereka tidak
memiliki ruang ICU khusus untuk anak, sehingga Calvin pun harus dirawat
bersama- sama dengan banyak orang tua yang sakit keras di ruang ICU tersebut.
Baru kali ini kami melihat ketakutan dan kecemasan yang begitu mendalam dalam
diri Calvin, karena di kamar tersebut hampir setiap hari terdengar jerit tangis
dari keluarga pasien yang meninggal, sehingga itu mempengaruhi jiwanya. “Aku
takut sendirian, aku takut kalo aku bobo tiba-tiba mati dan nggak bangun lagi
“, itulah kalimat yang selalu terucap dari mulutnya. Kami pun terus menjaga
setiap waktu dan membesarkan hatinya supaya tetap tabah dan berdoa mohon
kesembuhan dari Tuhan. Hampir dua minggu lamanya Calvin dirawat dan akhirnya
dokter pun mengijinkannya untuk pulang.
Manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang
menentukan. Baru beberapa hari pulang dari rumah sakit, Calvin sudah ngotot
untuk bersekolah lagi, dia takut sebentar lagi Ebtanas, dan dia banyak
ketinggalan pelajaran dari teman-temannya. Akhirnya dia pun memaksa kami untuk
mengijinkan dia masuk sekolah lagi walaupun saat itu kondisinya belum pulih
benar dan cuaca musim hujan yang sangat tidak bersahabat. Hanya tiga hari dia
dapat bertahan di sekolah, namun tercermin kebahagiaan yang begitu besar dari
raut mukanya ketika dia dapat berjumpa lagi dengan teman-teman kelasnya. Pada
hari ketiga dia terpaksa pulang lebih cepat dari sekolah karena kondisi
tubuhnya yang memburuk. Namun untuk kali ini Calvin tidak mau dirawat di rumah
sakit lagi, “Buat apa aku dirawat lagi, aku benci dengan alat-alat itu, aku ini
bukan bahan percobaan dokter yang bisa tusuk sana tusuk sini, biarlah aku
istirahat di rumah saja, nanti juga pasti sembuh sendiri.” itulah pembelaan
darinya agar tidak dibawa ke rumah sakit.
Namun seiring berjalannya waktu, kondisi Calvin
makin memburuk, hingga akhirnya kuputuskan untuk memanggil seorang pastor agar
memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit kepada anak kami tersebut. Ketika
pastor datang dan mendoakan dia, pada saat itulah Calvin menghadapi saat kritis
atau koma, namun di tengah ketidaksadaran dirinya tiba-tiba dia meminta kami
semua untuk diam dan kemudian dia berdoa dengan keras sekali suaranya, “Tuhan
kuatkanlah aku dalam menghadapi cobaan Mu ini”. Dua kali dia ucapkan kalimat
tersebut sampai kemudian dia tidak sadarkan diri lagi. Bergegas kami melarikan
Calvin ke rumah sakit dalam kondisi kritis tersebut. Sesampai di ruang gawat
darurat rumah sakit, Calvin mendapatkan pertolongan pertama untuk menjaga
kesadaran dia. Tak lama kemudian dokter pun menghampiri kami sambil
menyampaikan kabar buruk bahwa kecil kemungkinan Calvin dapat tertolong, dan
paling lama satu hari lagi dia dapat bertahan. Hal ini disebabkan di dalam
tubuh Calvin mengalami keracunan CO2 ( karbondioksida ) karena paru-parunya
tidak dapat berfungsi dengan baik untuk membuang CO2 tersebut keluar dari
tubuhnya. Dan seandainya dapat bertahan pun hidupnya akan bergantung dari
mesin-mesin bantu yang terpasang di tubuhnya. Hal itulah yang selama ini
menyiksa dia. Maka kami pun pasrah dan berserah kepada Tuhan untuk memberikan
jalan terbaik bagi anak kami tersebut.
Tuhan sekali lagi menunjukkan kebesaranNya
ketika keesokan harinya Calvin bangun dan tersadar. Terpancar kesedihan di
matanya ketika menyadari bahwa dirinya kini tergolek lagi di ranjang rumah
sakit bersama alat-alat bantu yang terpasang di tubuhnya. Kami pun bersyukur
ternyata Tuhan mendengar doa kami, dan masih memberikan waktu kepada anak kami
untuk melanjutkan hidupnya. Tak lama kemudian banyak kerabat, teman sekolah
Calvin, kepala sekolah dan guru-gurunya datang menjenguk untuk memberikan
semangat kepada Calvin agar cepat sembuh. Kami pun terus berdoa dan berserah
kepada Tuhan dan mengikhlaskan seandainya Tuhan memang berkenan memanggilnya.
Empat hari setelah dirawat di kamar ICU Calvin
tiba-tiba berontak dan memaksa kami untuk membawa pulang ke rumah. Baru sekali
ini kami melihat dia memelas sambil memohon untuk boleh pulang dan dirawat di
rumah. Ketika kami membujuknya untuk tetap bersabar sambil menunggu kesembuhan
dirinya, Calvin pun mulai marah hebat sambil melepas selang-selang dan
alat-alat bantu yang menempel di tubuhnya. Akhirnya kami pun menyadari mungkin
inilah keinginan terakhir dari Calvin untuk pulang ke rumah, tempat dimana ia
ingin beristirahat selamanya. Kami pun dengan berat hati memberanikan diri
memohon ijin kepada dokter untuk membawa pulang anak kami tersebut dengan
menyadari segala resikonya. Namun sekali lagi Tuhan berkehendak lain. Sambil
menunggu jawaban dokter, karena hari itu adalah hari Minggu maka kami harus
menunggu jawaban dokter untuk merespon permohonan kami tersebut, tiba-tiba
Calvin mengalami pendarahan yang hebat, dimana hal tersebut tidak pernah
terjadi sebelumnya. Karena tetap berontak ingin pulang, Calvin akhirnya
ditidurkan dengan memberikan suntikan penenang ke dalam tubuhnya. Dan akhirnya
dia pun tertidur dan itulah saat terakhir kami melihatnya dalam keadaan sadar.
Dini hari tanggal 9 Febuari 2009 akhirnya
malaikat Tuhan datang menjemputnya. Dia telah pergi meninggalkan kami semua.
Namun kami percaya itulah jalan terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada kami
untuk mengakhiri penderitaannya.

Kepergian Calvin bagi keluarga kami adalah
suatu bentuk mujizat dari Tuhan. Kenapa mujizat? Ya, karena Tuhan telah
menjawab doa kami, Dia telah membebaskan Calvin dari penderitaan yang dia alami
selama ini. Tuhan telah memberi kedamaian abadi kepada anak kami tersebut.
Kami
tak dapat berpikir seandainya dia masih hidup namun bergantung dengan
mesin-mesin yang terpasang dalam tubuhnya, sanggupkah dia melewati semua itu.
Kami percaya kini dia telah menjadi malaikat kecil Tuhan dan selalu melindungi
dan mendoakan keluarga ini.
Dan setelah setahun lebih Calvin meninggalkan kami,
justru hidup kami makin dekat dengan Tuhan, bukan meninggalkan atau
menghujatNya karena telah memberikan kami cobaan yang begitu dahsyat ini.
Kami
bersyukur karena begitu besarnya cinta Tuhan kepada kami hingga akhirnya Dia
mendengarkan doa kami dan mencabut penderitaan itu dari diri Calvin. Dan Tuhan
selalu menepati janjiNya untuk menjaga kami hingga saat ini.http://calvinindi.blogspot.com/
( in memoriam Calvin Indi Sutanto, 10 May 1997 ~ 09 February 2009 )